07 Januari 2009

Kandang Kambing Pak Ocen: Cerita Tahun baru

Telah lewat dari pukul sembilan malam ketika aku tiba di rumah pak Barja, sedikit rumah yang memiliki halaman buat parkir di kampung berkontur rapat di kaki gunung Salak. Kampung kelihatan sepi, pos ronda terlihat kosong. Hanya dipenuhi dengan coretan-coretan nakal dan white board kecil yang mulai menglupas dengan jejeran tulisan nama petugas piket ronda. Di bawah.. dekat jembatan kecil terlihat dua orang sedang menunggu mobil bak terbuka yang akan membawa hasil pertanian mereka kepasar. Talas dan nanas terlihat sudah menumpuk rapi diplataran sempit tempat mobil biasanya mangkal. “sendirian aja mas?” sapa mereka sambil duduk berselimut sarung dengan kupluk wool sambil sesekali menghembuskan asap rokok dari sela bibir mereka. Mirip gerilyawan Zapatista... begitu imajinasiku muncul.

Segera bergegas ke rumah pak Otang, wah... rumah terlihat agak beda, teras sudah keliatan lebih rapi dengan lantai berubin licin. Pola kombinasi warna putih dengan warna dasar biru muda terlihat kontras dengan warna tanah halaman rumah yang basah habis tersiram hujan. “Puuunteeeen.....” ucapku beberapa kali sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Sudah pada tidur pikirku. Tak lama berselang dari samping rumah mucul Deden yang kemudian disusul hadirnya pak Ocen. “lagi ke pasar mas... besok pagi baru pulang” begitu ucap Deden, anak tertua pak Otang yang kini sudah tinggal di rumah yang berbeda, dia sedang membangun keluarganya sendiri bersama istri dan anaknya. “mau nyusul teman-temannya mas” ucap Deden, “jangan sendirian, diatas banyak percabangan jalan, lebih baik dianterin” tambahnya. “Mas gonjes nanti biar saya yang anterin” timpal pak Ocen menawarkan diri. Kurasakan keramahan yang memang lumrah dijumpai di kampung ini. Meskipun aku berniat untuk naik sendiri menyusul teman-teman, tak mungkin ku tolak tawaran ramah mereka. Paling tidak sampai di batas kampunglah pikirku.

Setelah pamitan kamipun berjalan menyelip diantara rumah-rumah ke atas kampung. Sebelumnya si bapak mampir dulu kekandang kambing miliknya untuk ambil golok dan senter. Kandang terlihat berbeda... paling tidak aku baru melihatnya. Berbeda dengan bentuk kandang kambing pada umumnya yang pernah aku lihat di kampung ini. Ini lebih besar... bagian belakang dibuat panggung yang berfungsi sebagai kandang utama sementara bagian depan berlantai tanah dengan amben yang cukup luas untuk tidur 2-3 orang. “Mau kemana mas?” tanya salah seorang anak muda yang lagi leyeh-leyeh di tempat tidur. Ada tiga orang anak muda yang lagi bercengkerama di bagian tersebut ketika aku dan pak Ocen datang. Sementara aku menunggu diluar Pak Ocen berbincang-bincang sebentar dengan mereka dalam bahasa Sunda.

“Makasih pak sampai disini aja” ucapku sambil terengah-engah ketika kami sudah sampai di tengah-tengah kebun di ujung kampung. Diam-diam aku kagum kemampuan fisik beliau. Meskipun sudah sepuh, boleh dikatakan kakek-kakek di sepanjang jalan beliau terlihat perkasa, gesit dan lincah melalui setiap tanjakan. Malu rasanya untuk mengatakan bahwa diriku sudah tua untuk naik gunung. Cuaca ceraah... Jalur terlihat cukup jelas.... aku sudah beberapa kali melewati tempat ini... jadi cukup yakinlah bisa sampai ketempat yang kutuju.. sesekali aku berhenti dan mematikan senter... untuk menikmati suasana malam di sini. Bau tumbuhan segar dan keremangan kebun nanas yang terbuka mulai kurasakan. Di kejauhan bagian atas terlihat hitam gelap tegakan hutan pinus yang terlihat kontras dengan pemandangan di belakangku. Jauh di bawah kerlap-kerlip kota Bogor menampilkan pemandangan kota dimalam hari... besok malam pasti akan lebih meriah pikirku... karena biasanya banyak yang bakar kembang api ditahun baru... memang kadang kesendirian menjadi situasi yang indah untuk dinikmati.

Sambil berjalan aku masih teringat akan kandang kambing tadi. Sedikit aneh melihat model kandang kambing tersebut... tidak seperti biasanya...aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan kampung ini.... Sayang aku tidak sempat menanyakan perihal keganjilan tersebut ke beliau yang kini mungkin sudah sampai di kampung . Tiba-tiba aku mendengar suara dari orang-orang yang cukup aku kenal dari arah hutan pinus. Sepertinya malam ini aku akan tidur di hutan pinus....

New year’s eve (hari terakhir dibulan Desember) aku isi dengan melanjutkan perjalanan keatas hingga di ketinggian 1100 mdpl dan merakit flysheet menjadi tempat berteduh yang nyaman dan aman. Selebihnya banyak ngobrol dengan pak Otang tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kampung.. “gara-gara BLT sih mas” ucap pak Otang ketika kutanya tentang ronda. “pembagiannya gak adil... yang dapat justru yang lebih mampu, sementara yang benar-benar butuh malah gak dapet” ucap pak Otang penuh emosi. “ kalau begitu biar saja mereka yang ronda” timpalnya lagi. “udah ada beberapa kali kasus kehilangan kambing mas...” ucapnya lagi. Setidaknya aku dapat jawaban sementara atas pertanyaan yang ada dikepalaku. Mungkin itu yang membuat mereka pada tidur di kandang kambing, merubah model kandang sedemikian rupa agar nyaman bagi yang jaga. Entah terpikirkan atau tidak oleh para pembuat keputusan bahwa setiap keputusan dapat mempengaruhi fungsi sosial yang ada di akar rumput. Paling tidak dalam kasus ini fungsi integrasi kampung menjadi terganggu. Keamanan kolektif yang biasanya ada menjadi rusak... begitu sulitkah untuk memahami dunia empirik dengan pendekatan emik....?

Pada suatu masa ketika aku masih kuliah dulu, ketika sedang latihan SRT (single rope technique) di pohon depan PKM aku dipanggil oleh pak Andi Hakim Nasution. “Kamu segera turun dan saya tunggu di ruangan saya” ucapnya dengan suara yang diperkeras. Membuat aku yang sedang tergantung diatas tali bengong melongo melihat kebawah. Akupun turun dan bergegas menuju sebuah ruangan di FMIPA. Ngeri juga berhadapan langsung dengan beliau, berbicara berdua dengan salah satu guru besar IPB yang disegani banyak orang. “tau enggak kamu” begitu beliau memulai pembicaraan. Dilanjutkan dengan cerita tentang seorang profesor di Amerika latin yang memberi sumbangan besar terhadap ilmu pengetahuan karena penemuannya di puncak sebuah gunung. "Banyak orang yang pintar seperti dia di universitas”
ucapnya sambil bersungut. Kalau dia hanya lah orang pintar di universitas, pengetahuan itu akan tetap terkubur di atas gunung, begitu juga jika dia hanya seorang pendaki gunung. Dia menjadi istimewa karena dia memilki kombinasi keduanya. begitulah kira-kira pesan yang aku tangkap dari pertemuan tersebut. Wah.... rasa takut karena bakal dimarahin pun sirna. Beliau memang orang hebat.....

Disini aku teringat lagi dengan pesan-pesan beliau dalam peristiwa tersebut. Mungkin inilah yang dimaksud pak Andi... nun jauh dibawah sana dilampu-lampu yang gemerlapan pastilah banyak orang pintar... tapi tidak banyak yang mau bersusah payah datang kesini... mereka berjarak tidak hanya secara perspektif dan persepsi.... bahkan secara fisik... lihatlah bagaimana BLT yang kini sudah basi menjadi berita... akibatnya masih terus hangat di kampung bawah.... sampai-sampai pak Ocen harus memastikan bahwa ada orang yang tidur di kandang kambingnya.

Terima kasih pak Andi.. .


Ghonjess

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar